Humas MAN Sidrap – “Belajarlah dari masa lalu untuk menghadapi masa depan.” Kalimat kunci ini ditekankan oleh Sahrul Habrianto, S.Pd., Gr., saat menjadi pembina upacara bendera di MAN Sidenreng Rappang, Senin pagi ini. Pesan filosofis seorang guru sejarah ini menjadi alarm bagi seluruh siswa tentang pentingnya mengambil hikmah dari setiap kejadian, termasuk masalah keterlambatan ke madrasah.
Suasana khidmat dan penuh disiplin mewarnai pelaksanaan upacara bendera mingguan di lapangan utama MAN Sidenreng Rappang, pada hari Senin, 28 September 2026. Kegiatan ini merupakan rutinitas madrasah untuk menanamkan jiwa nasionalisme dan kedisiplinan bagi seluruh sivitas akademika.
Pelaksana Berdedikasi
Pelaksanaan upacara bendera hari ini berada di bawah tanggung jawab kelas XI B. Petugas pengibar bendera, pemimpin upacara, pengucap Janji Siswa, serta kelompok paduan suara terlihat begitu siap dan menjalankan tugas dengan presisi yang sangat tinggi. Kekompakan dan keseriusan mereka menjadi modal visual bagi terciptanya suasana sakral dan teratur di seluruh area lapangan madrasah. Ratusan siswa-siswi berdiri rapi di satu sisi, sementara dewan guru dan staf memenuhi area di sisi lain, semua tertuju pada prosesi pengibaran bendera Merah Putih.
Amanah Strategis Pembina
Sahrul Habrianto, S.Pd., Gr., bertindak sebagai pembina upacara pada kesempatan kali ini. Dalam amanahnya, beliau tidak hanya memberikan instruksi rutin, melainkan menyampaikan pesan mendalam dan strategis yang relevan dengan kehidupan pelajar.
Di awal pidatonya, Sahrul Habrianto memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada pelaksana upacara dari kelas XI B. Beliau memuji persiapan matang dan pelaksanaan yang berjalan lancar tanpa cacat berarti, sebagai bentuk tanggung jawab seorang pelajar.
Sebagai seorang guru sejarah, Sahrul kemudian membawa perspektif disiplin ilmu beliau ke tengah lapangan. “Sejarah bukan sekadar kumpulan angka tahun dan nama tokoh, tapi tentang sebab dan akibat. Belajarlah dari masa lalu untuk menghadapi masa depan,” tuturnya di hadapan peserta upacara.
Pesan tersebut kemudian dikonkretkan dalam konteks kehidupan madrasah, terutama terkait kedisiplinan. “Jika ada murid yang sering terlambat ke sekolah, tanyakan pada diri sendiri di pagi hari: ‘Apa yang menyebabkan saya terlambat di masa lalu?’ Pelajari jawabannya, ambil hikmahnya, agar di masa depan, kita tidak mengulangi kesalahan yang sama. Sejarah pribadi kita hari ini adalah cermin masa depan kita besok. Keterlambatan hari ini, jika tidak diperbaiki dari masa lalu, akan menjadi hambatan besar di masa depan,” tegas Sahrul Habrianto.
Komitmen Madrasah
Pelaksanaan upacara hari ini merefleksikan komitmen MAN Sidenreng Rappang untuk terus memberikan pendidikan karakter yang unggul, disiplin, dan berkarakter islami. Madrasah memastikan setiap kegiatan, sekecil apa pun, memiliki makna dan nilai tambah bagi pembentukan mental siswa yang siap menghadapi tantangan zaman.
Usai upacara, Kepala MAN Sidenreng Rappang, H. Mukhlis Siri, memberikan pandangannya terkait pelaksanaan hari ini. Beliau menekankan pentingnya internalisasi pesan pembina sebagai panduan hidup di madrasah.
Beliau menyampaikan apresiasi strategis yang penuh makna:
“Saya, selaku Kepala Madrasah, mengapresiasi tinggi dedikasi petugas kelas XI B. Penampilan mereka hari ini adalah cerminan dari kedisiplinan yang kita bangun bersama. Pesan pembina sangat krusial; sejarah harus menjadi guru terbaik kita. Saya instruksikan kepada seluruh siswa untuk tidak mengabaikan pesan ini. Jangan ada lagi yang membawa keterlambatan ke sekolah sebagai ‘warisan’ masa lalu. Belajar dari masa lalu adalah keharusan strategis, bukan sekadar pilihan, untuk mencetak generasi yang tepat waktu, berdedikasi, dan mampu mengambil hikmah dari setiap langkah demi masa depan yang gemilang.”




Tinggalkan Balasan